Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan Raffi Ahmad, Yuni Shara Blak-blakan Tak Bisa Hidup Tanpa Mantan Satu Ini, Efek Cavin dan Cello



Sempat menjalin asmara dengan presenter Raffi Ahmad yang kini jadi suami Nagita Slavina, Yuni Shara kini masih menjanda.

Setelah bercerai sekitar 12 tahun lalu, Yuni Shara masih betah menjanda.

Kini, kakak Krisdayanti itu membuat pengakuan soal satu mantan suaminya yakni Henry Siahaan.

Yuni Shara mengaku tak bisa hidup tanpa sosok Henry Siahaan.

Jangan salah duga, Yuni Shara tak bisa hidup tanpa Henry Siahaan karena dua putra mereka, Cavin Obrient Salomo Siahaan dan Cello Obient Siahaan.

Diketahui, saat ini dua buah hati Yuni Shara dari Henry Siahaan itu sudah memasuki usia remaja.

Secara blak-blakan, Yuni mengaku bahwa ia tak bisa sendirian membesarkan dua putra tercintanya yang sedang puber itu.

Kakak kandung Krisdayanti ini dengan gamblang menyebut kehadiran Henry Siahaan sangat penting bagi tumbuh kembang Cavin dan Cello.

Ya, bagaimana pun juga, Yuni menyadari bahwa Cavin dan Cello sangat membutuhkan sosok ayah dalam hidup mereka.

"Anak-anak itu harus butuh satu kedisiplinan yang laki banget, dia harus ke papanya," kata Yuni saat live Pagi-pagi Ambyar Trans TV, Senin (4/7/2022).

Saya gak bisa jadi bapak, gimana pun juga, saya mau paksain juga, saya gak bisa jadi bapak," tegasnya.

Menurut Yuni, Cavin dan Cello harus belajar menduplikasi perilaku pria pada umumnya dari ayah mereka sendiri.

Baca Juga: 'Dia Muji Pas Udah Gak Jadi Bininya!' Mendadak Bongkar Tabiat Henry Siahaan Selama Menikah, Yuni Shara Malah Ngakak Mantan Suami Baru Memberinya Pujian Setelah Lama Bercerai

"Jadi anak-anakku bisa lihat gaya bapaknya, lagi minum gimana, lagi ngobrol sama temen-temen cowoknya, itu perlu banget dan aku gak bisa lakukan itu," jelasnya.

Bagi Yuni, merelakan dua putra remajanya menghabiskan waktu bersama sang mantan suami tentu bukan perkara mudah.

Namun, pelantun 'Desember Kelabu' itu ogah mementingkan ego sampai harus mengabaikan 'bekal' masa depan Cavin dan Cello.

"Kita yang memutuskan walaupun kadang kita aduh kangen banget, tapi jangan liat kitanya, kita mesti liat dia ke depan."

"Kita itu harus merelakan banyak hal untuk anak-anak lebih ke depan," tegas Yuni.

Sementara itu, secara mendadak mantan pacar Raffi Ahmad ini juga tiba-tiba membongkar tabiat mantan suaminya itu.

Yuni blak-blakan menyebut Henry tak pernah melontarkan pujian untuknya selama mereka menikah dulu.

Namun, justru ketika sudah lama bercerai, Henry malah memberi pujian pada sang mantan istrinya itu.

"Percaya gak sih ya, saya nikah sama bang Henry itu 12 tahun, pacaran 3 tahun, mostly 15 tahun."

"Dia itu gak pernah muji saya seumur hidup, baru kemarin 'Tetep cantik', dia muji pas udah gak jadi bininya," kata Yuni seraya tertawa.

Pujian yang dilontarkan Henry untuk mantan istrinya itu terjadi saat perayaan ulang tahun Yuni yang ke-50 pada 3 Juli 2022 lalu.

Agar Tetap Kompak Sebagai Orangtua Setelah Bercerai

Salah satu efek terberat perceraian orangtua akan dirasakan oleh anak. Itu sebabnya kini banyak yang berusaha menjaga hubungan baik dengan mantan suami atau istri demi pengasuhan anak.

Istilah tersebut dinamakan dengan "keluarga binuklir", yakni orangtua yang tinggal di rumah terpisah namun masih satu keluarga.

Menurut terapis keluarga dan profesor emerita di University of Southern California, Constance Ahrons yang menciptakan istilah tersebut, dalam keluarga semacam itu anak-anak diasuh oleh dua pasang orangtua.

Diharapkan tumbuh kembang anak tidak terganggu dengan pola asuh semacam ini dibandingkan dengan mereka yang bermusuhan, bahkan berebut hak asuh anak.

Demi anak, orangtua bisa mengusahakan perceraian yang "membahagiakan". Untuk mencapainya, diperlukan syarat berikut ini:

1. Bedakan masalah pasangan dengan pengasuhan

Ketika kamu menikah dan punya anak, maka kamu punya dua peran: sebagai pasangan dan orangtua. Sehingga setelah bercerai kita pun harus membuat perbedaan peran, terutama ketika akan berdiskusi dengan mantan tentang kepentingan anak.

Ahrons mengatakan, sering terjadi ketika awalnya membahas anak lalu berakhir dengan pertengkaran tentang sesuatu di pernikahan mereka. Dibutuhkan kerja keras untuk menghindarinya.

"Orangtua seharusnya menentukan apa yang akan dibahas saat itu, misalnya tentang anak, untuk menjaga percakapan tidak melebar ke mana-mana," katanya.

Membagi dua isu tersebut juga menjaga anak terlindungi dari masalah pasangan. Yang sering terjadi anak dilibatkan dalam pertengkaran tersebut.

Dalam survei yang dilakukan Popsugar terhadap 70 pembaca yang orangtuanya bercerai, banyak yang berharap mereka tak mengetahui perdebatan orangtuanya.

"Tak peduli berapa pun usia anak, mereka punya hak untuk tidak terlibat dalam perselisihan orangtua," kata Diana M. Adams, seorang pengacara yang menangani persetujuan hak asuh anak dan membantu sejumlah keluarga melalui perceraian kolaboratif.

Ketika menghadapi perceraian, carilah orang dewasa lain, bukan curhat ke anak, untuk membicarakan mengenai mantan pasangan.

2. Membuat persetujuan.

Langkah selanjutnya adalah membuat semacam persetujuan dan aturan untuk bekerjasama mengurus anak-anak. Persetujuan tersebut membuat kedua belah pihak terikat.

Ahrons mengatakan, ketika pasangan suami istri bercerai, mereka idealnya mengatur segala detail. Misalnya, membagi kapan anak akan tinggal bersama masing-masing orangtuanya dan menanggung biaya kebutuhan anak.

"Selama proses perceraian, penting untuk memikirkan tentang pengambilan keputusan ke depan terkait hal-hal penting anak dan bagaimana kedua belah pihak bisa menyelesaikan masalah tanpa harus kembali ke pengadilan," ujar Adams, yang juga menyusun dokumen legal untuk banyak pasangan.

3. Berbagi hak asuh anak

Anak yang orangtuanya bercerai dan tidak berbagi hak asuh cenderung lebih marah dengan perceraian orangtuanya dan kurang bahagia.

Rumah orangtua yang mendapat hak asuh resmi bisa menjadi rumah utama anak, sementara rumah orangtua lainnya bisa dikunjungi kerika akhir pekan atau sesekali ketika akan makan malam bersama.

4. Pertimbangan kebutuhan anak sesuai usia

Cara lainnya agar anak lebih mudah menerima perceraian orangtua adalah tetap memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan usia. Misalnya, hingga usia anak 3 tahun biasanya anak tidak ingat bahwa kedua orangtuanya itu pernah bersama jadi mereka mudah beradaptasi.

Namun, jika usia anak sedikit lebih dewasa, menghadapi perceraian orangtua cenderung lebih sulit bagi mereka.

Pada survei pembaca Popsugar, responden di bawah usia 13 tahun cenderung lebih marah pada perceraian kedua orangtuanya ketimbang responden remaja atau dewasa muda.

Anak-anak remaja juga menghadapi tantangan unik. Ahrons mengatakan, remaja saat ini cenderung fokus pada diri mereka sendiri dan lebih narsis. Sehingga ketika orangtua mereka datang dan mengacaukannya, mereka akan sangat marah.

Menurut Ahrons, perceraian ketika anak memasuki masa transisi, seperti saat akan memasuki bangku kuliah, sebaiknya dihindari. Sebab anak cenderung berpikir apakah orangtuanya selama ini bersandiwara karena ia melihat mereka baik-baik saja.

5. Pertimbangkan ketika akan memperkenalkan pasangan baru

Sebaiknya tunggu setidaknya enam bulan hingga satu tahun sebelum memperkenalkan anak pada siapapun. Sebab, kondisi tersebut akan membuat anak merasa kehilangan terlalu cepat.

Selain itu, ketika akan memperkenalkan pasangan baru, pastikan kamu memberitahu mantan pasangan tentang rencana tersebut.

"Salah satu sumber rasa sakit dan instabilitas pada anak dari perceraian orangtua adalah ketika mereka harus membuka pintu untuk pasangan baru orangtua mereka," kata Adams.

Menurut survei, mereka yang punya hubungan positif dengan orangtua tirinya telah menjalani pendekatan perlahan di awal. Orangtua yang menghormati kebutuhan anak, dengan tetap menjaga hal-hal terkait mantan pasangannya, cenderung mendapatkan persetujuan anak untuk pasangan baru.

6. Atasi dengan baik perceraian karena perselingkuhan

Menjaga hubungan baru adalah hal sulit, namun akan jauh lebih menantang jika pernikahan berakhir karena adanya perselingkuhan. Biasanya pengasuhan bersama juga akan lebih sulit.

"Mereka mungkin merasakan rasa marah, dendam dan terhina ketika harus melalui perceraian tersebut dan membuat keputusan bersama tentang pembagian sumber finansial atau jadwal kunjungan," kata Adams.

Situasi ini akan sangat menyakitkan untuk pihak yang dikhianati. Namun, karena mereka masih perlu menjalani perceraian kolaboratif, lebih baik mereka menyimpan amarah dan dendam agar tidak timbul rasa sakit lebih atau trauma.

7. Jangan bertengkar setiap kali bertemu

Ketika sudah bercerai, biasanya akan ada saja potensi konflik bersama mantan pasangan. Situasi itu akan membuat anak kesal.

Jadi, alih-alih menunjukkan pertengkaran, lebih baik menghindari interaksi langsung. Misalnya, membagi tugas mengantar-jemput anak (satu orangtua mengantar dan satu lagi menjemput).

"Anak-anak tak perlu orangtuanya menjadi sahabat. Tapi mereka tidak mau merasa takut tentang apa yang terjadi ketika kalian bertemu," kata Ahrons.

8. Jangan menyimpan masalah di bawah permukaan

Bahkan pada pernikahan tanpa drama sekalipun, perceraian bisa membawa masalah tak terlihat. Terutama jika ada masalah komunikasi sebelumnya.

Pada tipe pernikahan seperti itu, masalah di bawah permukaan seringkali memicu amarah yang lebih besar ketika perceraian. Misalnya saja perbedaan pandangan tentang uang, masalah asuh anak, atau keseimbangan kerja dan rumah.

Mantan pasangan yang menghadapi masalah ini seringkali menjadi lebih tidak stabil setelah perceraian dilakukan. Bahkan ketika masalah utama telah diselesaikan atau diputuskan, amarah masih bisa tersisa.

Namun, alih-alih berpura-pura segala hal baik-baik saja, orangtua sebaiknya memperbolehkan anak-anak menghadiri sesi terapi untuk membicarakan masalah mereka sehingga mereka pun bisa menghadapi situasi sulit tersebut.

9. Jangan mengubah mantan pasangan

Kunci dari perceraian yang bahagia adalah menerima mantan pasangan sebagaimana diri mereka.

"Lihatlah mantan pasangan sebagaimana anak-anak melihatnya," kata Hayes, yang bercerai dengan dua anak.

Ini akan mencegah orangtua untuk berbicara negatif tentang satu sama lain. Hayes bahkan sebisa mungkin mencoba menyampaikan hal-hal baik tentang mantan suaminya kepada anak-anak mereka.

Ketika ia tak lagi mencintai sang mantan suami dalam konteks tradisional, tetap ada hubungan unik antara keduanya.

"Dia adalah ayah dari anak-anakku dan kami sudah melalui semuanya bersama. Dia menjadi cinta dalam hidupku untuk 15 tahun dan akan selamanya ada di hidupku, jadi aku harus menerima kondisi saat ini," kata Hayes.

10. Jangan tempatkan diri di situasi tidak aman

Terkadang, perceraian bahagia artinya adalah membuat batasan. Jika ketika masih menikah Anda adalah pasangan yang banyak konflik, jangan diulangi setelah bercerai.

Dalam banyak kasus, tak masalah untuk tidak memprioritaskan hubungan dengan mantan pasangan. Misalnya, ketika mantan pasangan sering bersikap kasar, sebaiknya menjauh.

Menjadikan masa setelah perceraian menjadi masa bahagia anak

Proses perceraian kolaboratif mempertimbangkan kebutuhan di masa depan pada keluarga binuklir. Ini diharapkan mampu memberikan situasi yang lebih baik pada anak meskipun orangtua tidak lagi bersama.

Orangtua pada umumnya ingin anak-anak mereka hidup bahagia dan memiliki masa depan yang bahagia ketika dewasa.

Terlepas dari tantangannya, menjaga hubungan keluarga tetap baik setelah pernikahan adalah hal yang memungkinkan. Misalnya, duduk bersama mantan pasangan ketika menyaksikan anak mengikuti lomba sepakbola.