Gadis Arab ternyata nggak berminat menikah dengan pria luar, ini alasannya...
Memang sebagian pria ada menyukai dan menginginkan gadis Arab untuk menjadi istrinya.
Tetapi ternyata mempersunting gadis Arab tidak semudah apa yang pikirkan. Banyak hal yang harus mereka pikirkn baik materi maupun adat istiadat setempat.
Para pria single, pernah berpikir untuk menikahi seorang wanita bule yang berasal bukan dari negara Indonesia.
Mungkin terpikir untuk menikahi gadis-gadis cantik non muslimah yang berasal dari Arab Saudi?
Dan, mungkin bagi sebagian pria, memang ada keinginan yang terbesit untuk menikahi gadis Arab Saudi, namun perlu diketahui informasi penting berikut.
Ternyata, sebagian besar gadis Arab Saudi tidak ingin menikah dengan pria yang berasal
dari luar negeri.
Alasan dari pernyataan ini terungkap yakni karena mahar yang begitu besar sangat mahal serta faktor perbedaan Marga.
Hal ini terkuak usai seorang YouTuber Arab Saudi membagikan informasi tersebut melalui channel YouTubenya.
"Selain harga maharnya mahal kan kalau menikah dengan laki laki luar akan berpindah marga," kata seorang YouTuber di Arab Saudi melalui channel YouTube Maz Giyo.
Namun ada juga yang mampu untuk menikahinya akan tetapi wanita Arabnya tidak berkenan untuk dinikahi orang luar.
hal tersebut karena wanita Arab takut dirinya terputus dari Marganya.
Akan tetapi berbeda dengan pria Arab, mereka bebas untuk menikah dengan wanita manapun karena tidak akan terputus dari marganya.
Namun ada juga yang tidak diperbolehkan oleh pemerintah pria Arab menikah dengan wanita negara luar.
Salah satu negara yang tidak diperbolehkan pemerintah kepada pria Arab untuk menikahi wanitanya itu ada 4 negara.
Melansir dari Gulf News pada 23 Maret 2021 yang lalu, negara tersebut yang wanitanya tidak diperboleh dinikahi ialah seperti Pakistan, Bangladesh, Chad dan Myanmar.
Berdasarkan survei Arab Saudi terbaik perlakukan wanita.
Arab Saudi meraih peringkat terbaik selama tahun 2020 dalam memperlakukan wanita dibandingkan negara-negara di kawasan Arab lainnya.
Secara global, Arab Saudi berada di peringkat ke-89.
Peringkat tersebut merupakan hasil survei yang dilaporankan dan diterbitkan oleh majalah CEOWORLD seperti yang dilansir Gulfnews, Sabtu (27/6/2020).
Laporan tersebut menyebutkan, Oman berada di peringkat kedua di dunia Arab dan ke-91 secara global, sementara Yordania berada di urutan ketiga regional dan ke-96 secara global.
Uni Emirat Arab (UEA) berada di peringkat ke-4 dan ke-100 secara global. Qatar, Kuwait, Libya, Mesir, dan Bahrain mengikuti urutan 5, 6, 7, 8 dan 9 di dunia Arab dan 107, 111, 117, 124, dan 128 secara global.
Secara global, Swedia menempati peringkat negara terbaik di dunia untuk wanita. Denmark dan Belanda masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga. Norwegia berada di peringkat ke-4.
Delapan dari sepuluh negara teratas untuk wanita berada di Eropa, termasuk Finlandia (No 6), Swiss (No 7), Prancis (No 9), dan Jerman (No 10).
Laporan ini menyatakan ada pola diskriminasi dan kejahatan universal terhadap perempuan, tetapi volume dan intensitasnya berbeda dari satu negara ke negara lain.
Faktor-faktor regional, ras, dan sosial-ekonomi memainkan peran penting dalam menentukan penilaian ini. Termasuk kesetaraan gender dan memberikan peran besar kepada wanita.
Laporan ini menyatakan ada pola diskriminasi dan kejahatan universal terhadap perempuan, tetapi volume dan intensitasnya berbeda dari satu negara ke negara lain.
Faktor-faktor regional, ras, dan sosial-ekonomi memainkan peran penting dalam menentukan penilaian ini. Termasuk kesetaraan gender dan memberikan peran besar kepada wanita.
Laporan ini menyebutkan tidak ada negara di dunia yang 100 persen aman bagi wanita dengan kebebasan untuk hidup setara.
Namun, beberapa negara lebih baik daripada yang lain dalam hal persamaan hak, inklusi sosial, dan rasa aman.
CEOWORLD merilis ini berdasarkan survei terhadap hampir 256.700 wanita di seluruh dunia.
Untuk menghasilkan daftar Negara Terbaik untuk Wanita, 156 negara diberi skor di sembilan atribut: kesetaraan gender, persentase kursi legislatif yang dipegang wanita, dan rasa aman (perempuan 15 tahun ke atas yang melaporkan merasa aman saat berjalan sendirian di malam hari).
Juga, kesetaraan pendapatan, kepedulian terhadap hak asasi manusia, pemberdayaan perempuan, rata-rata tahun pendidikan perempuan, keterlibatan perempuan berusia 25 dan lebih tua dalam pekerjaan berbayar, dan peran perempuan dalam masyarakat.